0
Fakta Sejarah Kacamata. Kacamata yaitu lensa tidak tebal untuk mata yang memiliki manfaat menormalkan serta mempertajam pandangan (ada yang berangka serta ada yg tidak) Saat ini selain jadi alat bantu pandangan, kacamata juga telah jadi pelengkap style dan jadi alat bantu spesial untuk nikmati hiburan seperti kacamata spesial tiga dimensi. Bagaimana sejarah kacamata hingga perkembangannya bisa sampai seperti saat ini?

Pada sejarah kacamata, kacamata adalah salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Tiap-tiap peradaban mengklaim juga sebagai penemu kacamata. Mengakibatkan dalam sejarah kacamata, asal-usul kacamata juga condong tidak terang dari tempat mana serta kapan diketemukan. 

Lutfallah Gari
Lutfallah Gari

Lutfallah Gari, seseorang peneliti sejarah sains serta tehnologi Islam dari Arab Saudi coba mempelajari sejarah kacamata dengan menelusuri rahasia penemuan kacamata dengan cara mendalam. Ia coba membedah beberapa sumber asli serta mempelajari literatur penambahan. 

Sejarah dan Fakta Di Balik Penemuan Kacamata Bag 1

Investigasi yang dikerjakannya itu menghasilkan suatu titik jelas bagi sejarah kacamata. Ia temukan kenyataan bahwa peradaban Muslim di masa keemasan mempunyai peran utama dalam temukan alat bantu baca serta melihat itu. 

Melalui tulisannya bertopik The Invention of Spectacles between the East and the West, Lutfallah mengungkap, dalam catatan sejarah kacamata peradaban Barat sering mengklaim sebagai penemu kacamata. Walau sebenarnya, jauh saat sebelum orang-orang Barat mengetahui kacamata, peradaban Islam sudah menemukannya. Menurutnya, dunia Barat sudah bikin sejarah kacamata yaitu penemuan kacamata yang sebenarnya hanya suatu mitos serta kebohongan belaka. 

”Mereka berniat bikin sejarah kacamata bahwa kacamata itu nampak saat Etnosentrisme” tutur Lutfallah. 

Menurutnya, dalam penelusuran sejarah kacamata oleh dirinya, saat sebelum peradaban manusia mengetahui kacamata, beberapa ilmuwan dari beragam peradaban sudah temukan lensa. Hal semacam itu dibuktikan dengan diketemukannya kaca. 

Dalam sejarah kacamata, lensa juga di kenal pada sebagian peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik serta Islam. Berdasar pada bukti yang ada, lensa-lensa ketika itu tak dipakai untuk magnification (perbesaran), namun untuk pembakaran. Langkahnya dengan memusatkan sinar matahari pada konsentrasi lensa/titik api lensa sebagaimana tercatat dalam sejarah kacamata. 

Oleh karenanya, dalam sejarah kacamata mereka menyebutnya dengan nama umum “pembakaran kaca/burning mirrors”. ”Hal ini dapat terdaftar dalam sebagian literatur yang dikarang sarjana Muslim pada masa peradaban Islam, ” begitulah setidaknya kata Lutfallah. Menurutnya, fisikawan Muslim legendaris, Ibnu al-Haitham (965 M-1039 M), dalam karyanya mengenai sejarah kacamata bertopik Kitab al-Manazir (perihal optik) sudah mempelajarai permasalahan perbesaran benda serta pembiasan sinar. 

Ilustrasi Ibnu al-Haitam
Ibnu al-Haitam (Ilustrasi )

Sejarah kacamata telah mencata bahwa Ibnu al-Haitam pelajari pembiasan sinar melalui suatu permukaan tanpa ada warna seperti kaca, hawa serta air. “Bentuk-bentuk benda yang tampak terlihat menyimpang saat selalu lihat benda tanpa ada warna”. Hal ini merupakan bentuk permukaan semestinya benda tanpa ada warna, ” disebutkan oleh al-Haitham seperti diambil Lutfallah. 

Inilah salah satu kenyataan yang tunjukkan dalam sejarah kacamata begitu ilmuwan Muslim Arab pada abadke-11 itu sudah mengetahui kekayaan perbesaran gambar lewat permukaan tanpa ada warna. Tetapi, al-Haitham belum tahu aplikasi yang utama dalam fenomena ini. Hasil dari buah pikir yang dicetuskan Ibnu al-Haitham tersebut adalah hal yang paling pertama dalam bagian lensa dan sejarah kacamata. 

Sekurang-kurangnya, yang tercatat dalam sejarah kacamata yang sebenarnya peradaban Islam sudah mengetahui serta temukan lensa lebih awal tiga ratus th. dibanding Orang-orang Eropa. Masih menurut Lutfallah lagi, penemuan kacamata dalam peradaban Islam tersingkap dalam puisi-puisi karya Ibnu al-Hamdis (1055 M- 1133 M). Dia menulis suatu syair yang melukiskan perihal kacamata. Syair itu ditulis sekitar200 th., saat sebelum orang-orang Barat temukan kacamata. Dalam catatan sejarah kacamata, Ibnu al-Hamdis melukiskan kacamata melalui syairnya diantaranya seperti berikut : 

”Benda bening tunjukkan tulisan dalam suatu buku untuk mata, benda bening seperti air, namun benda ini adalah batu. Benda itu meninggalkan sisa kebasahan di pipi, basah seperti suatu gambar sungai yang terbentuk dari keringatnya, ” sebagaimana dikatakan oleh al-Hamdis. 

Al-Hamdis meneruskan, ”Ini seperti seseorang manusia yang pandai, yang menerjemahkan suatu sandi-sandi kamera yang susah diterjemahkan. Ini dapat juga suatu penyembuhan yang baik untuk orangtua yang lemah penglihatannya, serta orangtua menulis kecil dalam mata mereka. ” 

Syair al-Hamids itu sudah mematahkan klaim sejarah kacamata yang ditulis peradaban Barat juga sebagai penemu kacamata pertama. 

Pada puisi ketiga yang menunjukkan kebenaran sejarah kacamata, penyair Muslim legendaris itu menyampaikan, “Benda being ini tembus sinar (kaca) untuk mata serta tunjukkan tulisan dalam buku, namun ini batang badannya terbuat dari batu (rock) ”. 

Setelah itu dalam dua puisi, yang menunjukkan kebenaran sejarah kacamata al-Hamids mengatakan bahwa kacamata adalah alat penyembuhan yang paling baik untuk orangtua yang menanggung derita cacat/mempunyai pandangan yang lemah. Dengan memakai kacamata, tutur al-Hamdis, seorang bakal lihat garis pembesaran. 

Dalam puisi keempatnya yang merupakan kebenaran sejarah kacamata juga, al-Hamdis coba menuturkan serta melukiskan kacamata seperti berikut : “Ini bakal meninggalkan tanda di pipi, seperti suatu sungai”. Menurut riset sejarah kacamata oleh Lutfallah, pemakaian kacamata mulai meluas didunia Islam pada era ke-13 M. Kenyataan tentang kebenaran sejarah kacamata itu tersingkap dalam lukisan, buku sejarah, kaligrafi serta syair.  

Dalam salah satu syairnya, sejarah kacamata mencatat Ahmad al-Attar al-Masri sudah mengatakan kacamata. Dalam perkataannya “Usia tua datang sesudah muda, saya pernah memiliki pandangan yang kuat, serta saat ini mata saya terbuat dari kaca. ” Disamping semua sekarah kacamata itu, Sejarawan al-Sakhawi, mengungkap, perihal seseorang kaligrafer Sharaf Ibnu Amir al-Mardini (meninggal dunia th. 1447 M). “Dia wafat pada umur melebihi 100 th. ; dia pernah mempunyai pikiran sehat serta dia meneruskan menulis tanpa ada cermin/kaca. “Sebuah cermin di sini rupanya seperti lensa, ” menurut al-Sakhawi dalam catatan sejarah kacamata. 

Kemajuan Sciense dalam Islam
Kemajuan Sciense Islam Masa Lalu 

Kenyataan lain dalam sejarah kacamata yang dapat menunjukkan bahwa peradaban Islam sudah lebih dahulu temukan kacamata yaitu pencapaian dokter Muslim dalam ophtalmologi, pengetahuan perihal mata. Dalam karyanya perihal ophtalmologi, Julius Hirschberg, mengatakan, dokter spesialis mata Muslim tidak mengatakan kacamata. ”Namun itu tidak bermakna bahwa peradaban Islam tidak mengetahui kacamata, ” tegas Lutfallah dalam catatan sejarah kacamata.

Demikian pengetahuan tentang kacamata mengenai Sejarah dan Fakta Di Balik Penemuan Kacamata Bag 1. Semoga dengan kita membaca artikel Sejarah dan Fakta Di Balik Penemuan Kacamata Bag 1, maka dapat menambah wawasan kita dalam dunia perkacamataan. Publisher tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang mungkin timbul dari penggunaan informasi ini.


Sumber referensi dan photo credit:
muslimheritage<dot>com
republika<dot>co<dot>id, ssplprints<dot>com, spectrum000.blogspot<dot>com

Post a Comment

 
Top